techmarketbizz – AS Negara Kaya kini menjadi penerima pinjaman terbesar dari China, meski sebelumnya memperingatkan negara lain soal risiko utang.
Studi terbaru AidData di College of William & Mary, Virginia, menunjukkan perusahaan AS menerima lebih dari USD 200 miliar dari Tiongkok dalam 25 tahun terakhir. Dana ini mengalir ke sektor strategis, termasuk energi, pertahanan, pusat data, dan infrastruktur vital.
Perubahan ini menandai pergeseran signifikan dalam strategi Beijing, yang sebelumnya fokus pada negara berkembang. Kini, negara berpendapatan tinggi dengan teknologi maju menjadi target utama.
Menurut laporan AidData, proporsi pinjaman China ke negara berpendapatan tinggi meningkat dari 1% menjadi 76% dalam dua dekade terakhir. Banyak pinjaman dilakukan melalui perusahaan cangkang dan sindikasi bank internasional, menyulitkan pengawasan publik.
“China kini memperluas pengaruh globalnya melalui teknologi dan infrastruktur strategis, bukan hanya perdagangan,” ujar peneliti AidData. Program “Made in China 2025” menjadi salah satu pendorong utama strategi ini.
Pakar ekonomi menilai tren ini memperdalam persaingan AS–China di ranah teknologi dan ekonomi global. Pinjaman tersebut membuka peluang investasi besar, tetapi juga memunculkan tantangan keamanan dan kedaulatan teknologi.
Jika tren ini berlanjut, aliran dana China ke negara maju akan semakin menentukan peta kekuatan ekonomi global, memaksa AS menyeimbangkan kepentingan strategis dan finansial.
Analisis tambahan menunjukkan pinjaman besar ini cenderung berfokus pada inovasi energi, AI, dan transportasi, yang dapat memperkuat posisi Tiongkok dalam kompetisi teknologi global mendatang.
Baca Juga : “Bisnis Keluarga Jadi Kunci Pertumbuhan Ekonomi Asia“
AS Negara Kaya Kini Jadi Penerima Pinjaman Terbesar China. China Perluas Pinjaman ke Perusahaan Sensitif AS, Memperkuat Keunggulan Teknologi
China kini menyediakan dukungan likuiditas bagi perusahaan besar AS, termasuk Amazon, Tesla, dan Boeing. Skema pendanaan ini sering menggunakan lembaga internasional dan perusahaan cangkang, sehingga China berhasil menembus sektor teknologi dan manufaktur yang sensitif terhadap keamanan nasional.
Selain itu, China memfasilitasi akuisisi saham perusahaan AS dalam bidang teknologi tinggi, seperti kecerdasan buatan, bioteknologi, komputasi kuantum, robotika, dan semikonduktor. Strategi ini memperkuat kehadiran China di industri yang krusial secara global.
Brad Parks, Direktur Eksekutif AidData, menyatakan bahwa pinjaman ini masuk ke sektor-sektor yang dianggap sensitif oleh Washington. Ia menekankan, “Kita berbicara tentang pemberian pinjaman ke sektor sensitif karena alasan keamanan nasional.”
Studi AidData memetakan total pinjaman dan hibah China mencapai USD 2,2 triliun ke 200 negara sejak 2000 hingga 2023. Di 72 negara berpendapatan tinggi, hampir 10.000 proyek dibiayai dengan nilai mendekati USD 1 triliun.
William Henagan, mantan penasihat investasi Gedung Putih, menyoroti risiko kompetitif yang tetap besar meski screening investasi AS diperketat. Ia menegaskan, persaingan antara kekuatan nuklir seperti AS dan China lebih mungkin terjadi di ranah ekonomi dan teknologi dibandingkan konflik fisik.
Henagan menambahkan, “Jenis risiko paling penting adalah daya saing ekonomi dan keamanan yang menentukan keberhasilan jangka panjang suatu negara.”
AidData menegaskan sebagian besar pinjaman China bertujuan komersial, bukan politis. Menanggapi laporan tersebut, Kementerian Luar Negeri China menyatakan pembiayaan luar negeri negaranya “mematuhi praktik internasional, prinsip pasar, dan keberlanjutan utang.”
Jika tren ini berlanjut, China akan semakin mengokohkan posisi strategisnya di industri teknologi global, menantang dominasi AS dalam sektor kritikal selama dekade mendatang.
Baca Juga : “Ibunda Raisa Ria Mariaty Meninggal Dunia Akibat Kanker“




Leave a Reply