techmarketbizz – Ekonomi digital Indonesia terus memimpin Asia Tenggara dengan pertumbuhan dua digit di hampir semua sektor. Pada 2025, nilai Gross Merchandise Value (GMV) diperkirakan mencapai USD 99 miliar, naik 14% dibanding tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini menunjukkan momentum kuat untuk e-commerce, layanan digital, dan media online.
Sektor e-commerce masih menjadi kontributor terbesar dengan GMV mencapai USD 71 miliar, meningkat 14% dari 2024. Transportasi dan pesan-antar makanan tumbuh 13% menjadi USD 10 miliar. Media online, termasuk gim, musik, dan video on-demand, naik 16% menjadi USD 9 miliar. Layanan keuangan digital juga mencatat pertumbuhan tinggi, dengan transaksi pembayaran digital (GTV) melonjak 27% ke USD 538 miliar, dan saldo pinjaman online naik 29% menjadi USD 13 miliar.
“Indonesia tetap ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara. Semua sektor utama mencatat pertumbuhan dua digit, GMV hampir mencapai USD 100 miliar,” ujar Veronica Utami, Country Director Google Indonesia, dalam Media Briefing, Kamis (13/11/2025).
Pertumbuhan paling signifikan berasal dari video commerce. Volume transaksi meningkat 90% menjadi 2,6 miliar, dengan 800 ribu penjual aktif. Fashion, aksesori, dan produk kecantikan menyumbang hampir setengah GMV, dengan nilai pesanan rata-rata USD 4,5–6 per transaksi. Indonesia juga menempati posisi teratas di pasar gim mobile Asia Tenggara, menyumbang 40% unduhan dan 35% pendapatan regional.
Dengan momentum ini, para pakar menekankan pentingnya inovasi dan investasi berkelanjutan. Dukungan tersebut dibutuhkan untuk mempertahankan daya saing ekonomi digital Indonesia di tingkat global. Tren video commerce dan pembayaran digital diprediksi tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan dalam beberapa tahun mendatang.
Baca Juga : “Produksi Pangan Indonesia Tumbuh Pesat di 2025“
Google Cloud Perluas Jakarta Cloud Region, Dorong Adopsi AI dan Ekonomi Digital
Google Cloud resmi mengumumkan ekspansi besar Jakarta Cloud Region menjelang Google Cloud Summit Jakarta 2025. Langkah ini memperkuat infrastruktur digital nasional sekaligus mempercepat adopsi AI berbasis cloud di seluruh sektor industri.
Jakarta Cloud Region terdiri dari pusat data berkapasitas tinggi yang saling terhubung di dalam negeri. Infrastruktur ini berfungsi sebagai “otak dan tulang punggung digital” bagi ribuan organisasi. Layanan meliputi server, chip silikon, penyimpanan data, dan jaringan berperforma tinggi, mendukung migrasi dari sistem on-premises ke cloud. Perusahaan rata-rata menghemat lebih dari 20% biaya teknologi tahunan setelah migrasi, yang dialihkan ke pengembangan AI dan data analytics.
“Google Cloud adalah pelopor cloud computing di Indonesia dan telah mendorong pertumbuhan ekonomi digital lebih dari lima tahun,” ujar Fanly Tanto, Country Director Google Cloud Indonesia, dalam siaran pers, Kamis (15/5/2025). Sejak 2020, Jakarta Cloud Region berkontribusi senilai Rp 900 triliun (USD 55 miliar) dan mendukung rata-rata 92.000 lapangan kerja setiap tahun.
Dalam lima tahun ke depan, kontribusi ekonomi diproyeksikan meningkat menjadi Rp 1.400 triliun (USD 88 miliar) dengan 240.000 lapangan kerja baru per tahun. Infrastruktur ini juga menjadi gerbang utama menuju platform AI Google Cloud, termasuk BigQuery dan Vertex AI, serta mendukung inisiatif nasional Bangkit Bersama AI untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045.
Ekspansi ini menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat teknologi dan inovasi digital terdepan di Asia Tenggara, dengan potensi transformasi ekonomi dan adopsi AI yang signifikan di berbagai sektor industri.
Baca Juga : “Bulog dan 11 BUMN Bangun Gudang Baru Tampung Panen Petani“




Leave a Reply