techmarketbizz.com – Skrining pendengaran dini menjadi langkah krusial untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dokter spesialis THT dari RSUP Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, dr. Fikry Hamdan Yasin, menekankan pemeriksaan sejak lahir penting agar fungsi komunikasi dan kualitas hidup anak tetap terjaga.
“Mulai anak usia dua hari sudah bisa melakukan skrining pendengaran. Pemeriksaan ini menggunakan OAE atau BERA,” kata dr. Fikry dalam siaran langsung di Jakarta, Rabu.
Metode Skrining Pendengaran pada Bayi
Skrining pendengaran bayi menggunakan dua metode utama, OAE (Otoacoustic Emissions) dan BERA (Brainstem Evoked Response Audiometry). Kedua alat ini menilai kondisi telinga dan respons otak terhadap suara, menghasilkan hasil “pass” atau “refer”.
- OAE fokus pada sel rambut di koklea, yang membantu mendeteksi potensi masalah telinga bagian dalam. Meski begitu, OAE tidak bisa memastikan gangguan pendengaran secara menyeluruh.
- BERA mengukur respons listrik otak terhadap suara, sehingga dokter bisa menentukan ambang dengar bayi dan memastikan gangguan pendengaran atau tidak.
Hasil “pass” menandakan pendengaran normal, sedangkan “refer” menunjukkan potensi gangguan yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Tahapan Tindak Lanjut bagi Anak dengan Hasil “Refer”
Anak yang hasil skriningnya “refer” mengikuti tahapan 1, 3, 6:
- Skrining ulang di bulan pertama.
- Pemantauan hingga usia tiga bulan.
- Pemeriksaan lanjutan pada usia enam bulan untuk memastikan gangguan pendengaran sejak lahir.
Jika gangguan terkonfirmasi, rehabilitasi dini segera dilakukan. Pilihan terapi meliputi Auditory Verbal Therapy (AVT), penggunaan alat bantu dengar, hingga implan koklea. Tujuannya, anak tetap bisa berkomunikasi dengan baik dan mendukung tumbuh kembang optimal.
Relevansi Global dan Tema World Hearing Day 2026
Skrining pendengaran dini juga sejalan dengan tema World Hearing Day 2026, yaitu “From communities to classrooms: hearing care for all children”. Hal ini menekankan pentingnya layanan pendengaran untuk semua anak, karena gangguan pendengaran yang tidak ditangani dapat memengaruhi perkembangan bahasa, belajar, dan interaksi sosial anak.
Data Prevalensi Gangguan Pendengaran di Indonesia
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan RI melalui program Cek Kesehatan Gratis hingga 31 Desember 2025, dari 18,6 juta peserta berusia tujuh tahun ke atas, sekitar 1,8 persen mengalami gangguan telinga. Data ini sejalan dengan Riskesdas 2013, yang mencatat tiga dari 100 orang di Indonesia mengalami gangguan pendengaran.
Dokter Fikry menegaskan, deteksi dini memungkinkan intervensi tepat waktu sehingga anak dapat mengembangkan kemampuan bicara dan komunikasi normal
Skrining pendengaran dini bukan hanya pemeriksaan rutin, tetapi juga langkah preventif penting untuk memastikan tumbuh kembang optimal anak. Pemeriksaan sejak lahir hingga enam bulan, ditindaklanjuti dengan terapi rehabilitatif bila diperlukan, menjadi kunci agar anak tetap bisa berkomunikasi dan berinteraksi sosial secara maksimal.
Orang tua disarankan aktif memantau dan membawa anak ke fasilitas kesehatan atau posyandu untuk skrining. Langkah ini sejalan dengan upaya global dan nasional dalam meningkatkan kualitas hidup anak melalui deteksi dan penanganan gangguan pendengaran sejak dini.




Leave a Reply